Akibatnya bagi insane transportasi adalah ribuan truk tujuan Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mengantri di sepanjang jalur lintas Bima-Sape, Nusa Tenggara Barat. Entah sampai kapan antrian ini akan terurai. Aktivitas penyeberangan terhenti total.
Akibat ketidakpastian penyeberangan, sejumlah sopir truk memilih untuk memutar balik dan kembali ke Kota Bima. Sementara itu beberapa calon penumpang kapal mulai mencari bantuan kepada nelayan tradisional yang mau mengantarkan mereka ke NTT.
Sejak dulu kecamatan Sape dengan pelabuhan Ferrynya telah menjadi pintu Gerbang memasuki Bima dari arah timur. Arus barang dan jasa terhubung melalui selat Sape ini. Bahkan dalam sejarah Kesultanan Bima, Sape merupakan pintu masuk Islam dan perdagangan internasional pada sekitar abad ke-17.
Pelabuhan Sape menghubungkan Bima dengan Labuan Bajo di Manggarai Barat, Sumba serta Sulawesi dan Kalimantan. Setiap hari komoditi unggulan Bima keluar lewat Sape. Sebaliknya dari NTT berbagai komoditi masuk ke Bima melalui Pelabuhan ini. Posisi pelabuhan ini memang cukup strategis. Sementara itu akibat pemblokiran tersebut aktifitas Pelabuhan Bajo pun ikut merasakan dampaknya. Ratusan penumpang kapal feri terlantar karena kapal tidak beroperasi.
Untuk informasi tentang penyeberangannkapal ferry, bisa menghubungi kantor perwakilan ASDPSape / Sumbawa – Office, yang terletak di Jl. Pelabuhan Sape, telpon (0374)71075 – 71066







